Meningkatkan Kecerdasan Manusia
Hidup sebagai manusia penuh dengan segala kebutuhan. Mulai dari kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, perumahan, sampai kebutuhan sekunder yang pada dasarnya adalah kebutuhan selain kebutuhan pokok seperti yang disebutkan di atas. Bahkan di jaman sekarang ini terkadang kebutuhan bagi beberapa orang tertentu kebutuhan sekunder dianggap pula telah menjadi kebutuhan pokok dalam hidupnya.
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut manusia mengupayakannya dengan bekerja, mencari nafkah hidup atau dalam istilah modern disebut dengan making money. Yang kalau bisa pula dikatakan dalam bahasa indonesia dengan ungkapan mencari uang.
Ketika manusia menyadari kebutuhannya tersebut dan berupaya untuk memenuhi segala kebutuhannya itu, muncullah suatu gagasan untuk menjadi yang terbaik dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya itu. Gagasan tersebut diantaranya adalah usaha untuk mencerdaskan dirinya sendiri, atau orang-orang yang mereka harapkan dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
Manusia yang cerdas adalah manusia yang mengoptimalkan segenap sumber daya yang dimilikinya untuk mengatasi persoalan dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Manusia yang cerdas adalah manusia yang mau menggunakan akal yang diberikan oleh Tuhannya untuk memikirkan tentang eksistensinya di dunia ini.
Kecerdasan sendiri bukan hanya sebagai karunia dari Tuhannya, namun kecerdasan juga merupakan buah usaha dari manusia itu sendiri untuk membentuk pola berpikir yang optimal. Dahulu ada anggapan bahwa kecerdasan itu bersifat mutlak, tidak dapat ditambah dan tidak bisa pula berkurang. Kecerdasan dianggap sebagai pemberian Tuhan kepada manusia dalam bentuk intelegensia, dan kemampuan intelegensia seseorang bisa diukur dengan menggunakan parameter-parameter tertentu. Ukuran kemampuan intelegensia inilah yang biasa disebut dengan Intelegensia Quotient (IQ).
Kemudian ketika manusia menyadari bahwa banyak orang yang mempunyai kemampuan intelegensia (IQ) yang tinggi namun seringkali tidak dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan baik, muncullah pertanyaan, adakah bentuk kecerdasan lain yang berpengaruh dalam menentukan kesuksesan hidup manusia? Apakah bentuk kecerdasan itu juga bersifat mutlak dan merupakan pula sifat lahiriah pemberian Tuhan yang tidak dapat berubah, baik ukurannya maupun jenisnya? Dan ketika manusia menyadari bahwa kesuksesan seseorang dalam mengatasi persoalan hidupnya juga tergantung pada bagaimana caranya menghadapi dan mengatasi persoalan hidupnya itu, muncullah sebuah keyakinan bahwa kepiawaian seseorang dalam mengatur emosinya, berempati, beradaptasi dan menemukan cara untuk menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung bagi dirinya untuk memudahkannya dalam setiap mengatasi persoalan adalah suatu bentuk kecerdasan pula. Kecerdasan inilah yang kemudian disebut dengan Emotional Quotient (EQ).
Banyak orang yang percaya bahwa suatu gabungan antara Kecerdasan Intelegensia (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ) inilah yang menentukan dalam kesuksesan hidup manusia. Kecerdasan berpikir dan mengatur emosi serta menciptakan kondisi-kondisi lingkungan dan diri seseorang memang menghasilkan suatu sinergi yang menjadikan seseorang mampu menentukan dan menerapkan dengan baik strategi atau taktik yang akan digunakan dalam mengatasi suatu persoalan. Bahkan banyak orang yang berusaha untuk mencerdaskan dirinya atau keluarganya dengan menerapkan gabungan Kecerdasan Intelegensia (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ) ini pada anak-anak mereka yang masih kecil, dengan harapan ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa, kelak mampu menjadi manusia-manusia cerdas yang berhasil menggapai kesuksesan dalam hidupnya.
Tetapi adakalanya keberhasilan manusia dalam menjalani kehidupan dan mengatasi tiap-tiap persoalan yang dihadapinya tidak menjadikan dirinya lebih baik, bahkan kerap kali menimbulkan rasa jemu dan frustrasi. Perilaku anti kemapanan ini muncul ketika manusia merasakan bahwa dirinya tidak menemukan tantangan dan menemukan kenyataan bahwa upaya-upaya perbaikan kehidupan yang mereka terapkan dalam sistem-sistem pola kehidupannya tidak mendapatkan reward yang memuaskan kehidupan rohaninya. Bisa dikatakan bahwa mereka merasakan kehampaan atau kekosongan jiwa ketika menghadapi kenyataan bahwa setiap usaha perbaikan kehidupan yang mereka lakukan terbentur pada kenyataan takdir yang tidak dapat mereka bendung atau mereka lewati dengan baik. Sebuah kenyataan hidup yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa, dan sama sekali mereka tidak berdaya dalam menghadapi kenyataan pahit takdir yang telah digariskan-Nya. Bahkan ketika seseorang yang tidak bertuhan menemukan kenyataan seperti ini, mereka berusaha menafikan dan mengingkari dengan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan suatu 'kehendak alam'. Mereka akhirnya menyerah dan berusaha menciptakan suatu kehidupan spiritual untuk menerima setiap kenyataan takdir tersebut. Dari sinilah muncul sebuah keyakinan bahwa penerimaan mereka akan takdir atau kenyataan hidup merupakan suatu bentuk kecerdasan pula. Suatu bentuk kecerdasan spiritual yang bertumpu pada penyerapan nilai-nilai rohani dalam setiap aktifitas kehidupan yang dilakukan oleh manusia. Inilah yang disebut dengan Kecerdasan Spiritual, atau Spiritual Quotient (SQ).
Kita dapat menemukan sebuah analogi mengenai kecerdasan manusia ini dengan mengambil contoh pada salah satu bidang olahraga, yaitu Balap Mobil Formula 1. Dalam balapan mobil ini kita bisa membuat perumpamaan bahwa mobil itu adalah Kecerdasan Intelegensia (IQ), sedangkan pembalapnya adalah manusia itu sendiri. Sebuah mobil yang baik, canggih, dan hebat, memiliki kecepatan yang sangat tinggi tentunya akan mudah sekali untuk memenangkan sebuah balapan. Atau kalaupun mobil tersebut tidak dipakai di sirkuit balap dan dipakai di jalan raya, tentunya mobil itu akan mampu menyusul mobil-mobil lain yang ada di jalan raya tersebut. Untuk menciptakan mobil tersebut diperlukan usaha riset puluhan tahun, bahkan ratusan tahun untuk mencapai teknologi mobil seperti yang sekarang ini. Demikian pula dengan Kecerdasan Intelegensia (IQ), ia harus diupayakan sejak dini, sejak manusia terbentuk di dalam kandungan. Upaya pembentukan Kecerdasan Intelegensia ini terus dilakukan ketika sang anak lahir, tumbuh menjadi kanak-kanak, remaja bahkan terus diupayakan dan dilakukan dalam setiap kesempatan, bukan hanya ketika sang anak bersekolah. Dengan demikian ketika sang anak tumbuh dewasa, ia akan memiliki Kecerdasan Intelegensia (IQ) yang tinggi, dan memiliki kemampuan pola berpikir yang baik, tumbuh cerdas secara intelektual.
Kembali pada analogi pada Balap Mobil Formula 1, dengan mobil yang canggih dan memiliki kecepatan tinggi, muncul pertanyaan, apakah pembalap tersebut akan berhasil?, belum tentu. Dengan bermodalkan mobil yang baik saja tidak cukup untuk menjadikan pembalap tersebut sukses. Dibutuhkan keahlian pembalap tersebut untuk mengenal trek sirkuit atau jalan yang akan dilaluinya. Apakah jalan tersebut memiliki banyak tikungan tajam, atau seberapa lebar jalan yang akan dilaluinya, atau berapa banyak pembalap atau mobil lain yang berjalan bersama dengannya. Dibutuhkan adaptasi dan usaha-usaha untuk mengenali trek sirkuit atau jalan tersebut, dan menciptakan kondisi-kondisi bagi dirinya dan lingkungannya untuk memudahkan baginya kapan harus berbelok ke kanan atau ke kiri, atau kapan ia harus menekan pedal gas atau menginjak rem agar lebih mudah ketika berbelok di tikungan tajam . Dan ia juga harus mengupayakan kondisi yang mudah baginya untuk melakukan semuanya itu. Inilah yang disebut dengan Kecerdasan Emosi (EQ). Faktor lingkungan yang dihadapi akan membentuk Kecerdasan Emosi yang merupakan usaha-usaha untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Kecerdasan Emosi bisa pula dibentuk dengan menciptakan kondisi-kondisi lingkungan, atau kondisi bagi dirinya yang memperbesar peluang untuk memudahkan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Demikian pula dengan manusia, agar dapat menjadi sukses tentunya ia harus dapat melalui pekerjaan dan tugas-tugasnya dengan baik. Padahal dalam usahanya tersebut banyak sekali faktor lingkungan yang berperan dalam kesuksesan usahanya. Manusia harus dapat beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, baik lingkungan alam yang bisa berupa ruang dan waktu, atau dengan lingkungan manusia lainnya, yang memiliki banyak watak dan karakter yang berbeda-beda. Paling tidak jika manusia tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, ia dapat menciptakan kondisi bagi dirinya agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Untuk meningkatkan Kecerdasan Emosi (EQ) ini juga diperlukan latihan dan usaha terus-menerus yang dilakukan sejak dini. Seorang anak yang dididik untuk menjadi orang yang sopan, berempati, penuh kasih sayang, ramah, bersemangat dan antusias, akan membentuk manusia yang memiliki Kecerdasan Emosi (EQ) yang tinggi. Jadi ketika ia menghadapi suatu persoalan, maka ia dapat melaluinya dengan ketenangan dan semangat yang tidak mudah padam.
Kembali lagi pada analogi pada Balap Mobil Formula 1, ketika pembalap memiliki mobil yang baik dan kemampuannya dalam melalui sirkuit atau jalan, muncul pertanyaan apakah sebenarnya tujuan dirinya berada di sirkuit tersebut dengan mobil yang dikendarainya? Jika ia berputar-putar di sirkuit tanpa tujuan, tentunya akan muncul kejenuhan, kebosanan, tidak adanya tantangan, tidak ada reward yang ia dapatkan. Demikian pula jika hal tersebut terjadi di jalan raya, maka ia akan tersesat, tak tentu arah, dan bisa memunculkan rasa frustrasi. Tetapi jika pembalap mempunyai tujuan, bahwa ia harus menjadi yang tercepat mencapai garis finish, menjadi juara yang naik ke atas podium, menerima penghargaan berupa piala dan hadiah yang diberikan, maka ia akan menjalani balapannya dengan penuh semangat dan antusias. Demikian pula yang terjadi seseorang yang berkendara di jalan raya untuk mencapai suatu tujuan, ia akan mengharapkan dapat selamat sampai di tujuan dengan penuh keberhasilan dan waktu yang cepat. Kecerdasan Spiritual (SQ) menekankan aspek adanya ke-Tuhan-an yang menjadi tujuan hidup. Seorang pembalap yang memiliki mobil yang baik (IQ) dan keahliannya mengemudikan mobil (EQ) akan selalu berharap menemui lawan yang fair, lawan yang jujur, bukan lawan yang bodoh atau curang yang menghalang-halanginya dari keberhasilan. Ia tidak ingin ada pembalap lain yang mengemudi dengan bodoh dan menyenggol mobilnya sehingga menimbulkan kecelakaan, atau ada pembalap yang curang dan berbuat jahat dengan menabrakkan mobilnya dengan sengaja untuk menimbulkan kecelakaan. Semua hal tersebut disebut dengan takdir, dan manusia tidak berdaya untuk menghentikannya.
Takdir adalah suatu ketetapan Tuhan yang berwujud menjadi suatu kenyataan. Ketetapan Tuhan inilah yang menjadikan seorang manusia dapat menjalani kehidupannya dengan penuh keberhasilan. Seorang manusia yang percaya adanya Tuhan yang Maha Kuasa dan ketetapan-ketetapan-Nya, yang baik maupun yang buruk, akan menumbuhkan Kecerdasan Spiritual (SQ) yang tinggi. Ketika manusia yakin adanya Tuhan yang menentukan jalan hidupnya, maka akan tumbuh penyerahan diri yang tinggi dalam setiap usaha yang dilakukannya. Ia akan menyerahkan setiap hasil dari usahanya sebagai suatu ketetapan yang telah ditentukan oleh Tuhan, walaupun segenap usaha yang maksimal telah dilakukannya. Ia tidak akan bersedih apabila hasil usahanya tersebut tidak memuaskan hatinya, namun ia tidak akan pula terbawa arus euforia yang berlebihan jika kesuksesan telah diraihnya.
Sebagai manusia yang taat kepada Tuhan-nya, ia akan mendapatkan pahala atas segala perbuatan baiknya. Bahkan ketika Tuhan-nya senang akan keimanan dan kesalehannya, maka Tuhan bisa saja memberikan keberuntungan bagi dirinya dalam setiap gerak langkah hidupnya. Demikianlah pembentukan Kecerdasan Spiritual (SQ) ini tidak hanya dilakukan ketika manusia dewasa, namun sudah harus dipupuk dan diajarkan sejak dini. Di dalam agama Islam, bahkan unsur pendidikan agama dimulai bukan hanya ketika seorang manusia berada di dalam kandungannya, tetapi bahkan lebih dari itu, ketika seseorang akan menikah maka dianjurkan untuk mendapatkan pasangan yang memiliki iman yang kuat kepada Allah, sehingga akan tumbuh kehidupan rumah tangga yang sakinah, rumah tangga yang tenteram dan damai, yang kelak akan menciptakan kondisi lingkungan yang baik untuk mendidik anak-anaknya.
Maka untuk meningkatkan kecerdasan manusia, sekali lagi peranan Tuhan tidak dapat dihilangkan. Ajaran agama yang menjadi pokok untuk meningkatkan Kecerdasan Spiritual mutlak diperlukan oleh manusia sebagai sebuah fithrah, naluri manusia. Ajaran agama yang diberikan Tuhan akan menuntun gerak langkah hidup manusia menuju tujuan hidup, yaitu kembali kepada Tuhan-nya. Tuhan yang Maha Suci yang bersih dan luhur dari perbuatan tercela, Tuhan yang Maha Tinggi yang selalu mengajarkan kepada kebaikan, Tuhan yang Maha Kuasa yang menetapkan kemuliaan bagi makhluknya, Tuhan yang Hidup dan selalu menjaga, mengatur dan memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, Tuhan yang Maha Esa tempat semua makhluk bergantung kepadanya.
--- Salamun ---