Monday, June 21, 2004

Seri Jawaban Cak Nun untuk Surat Pembaca


Gundah

JKT, Indonesia isi Surat masuk 06-05-2004 at 10:28

Hak Khusus

Cak, Saya pernah mendengar sedikit ulasan cak di radio delta fm. Mengenai hak yang dipunyai oleh Nabi Besar kita Nabi Muhammad, untuk merubah nasib, takdir kita, (mohon kalau saya salah saya dimaafkan & dikoreksi).
Menurut suami saya, maka saya harus memperbanyak puji-pujian kepada Nabi Muhammad, sahabat beliau dan keluarga beliau, agar kehidupan kita dapat lebih baik.

(Dengan rasa takut, dan malu, saya mau bertanya): Knapa harus begitu cak? Kenapa koq seperti kayak ke pejabat sajah? Kalo mau dibaiki, kita harus baik-baik sama dia, apakah perbuatan baik sehari-hari tidaklah cukup? Koq saya jadi merasa CM(cari muka) ke depan Nabi, dengan mengirim hadiah banyak-banyak supaya dilirik, dikasihani, diberkahi, saya merasa Nabi pasti tidak seperti itu. (sekali lagih mohon maaf bila pertanyaan saya kurang ajar, pertanyaan ini benar-benar mengganggu pikiran saya)

tanggapan:

untuk sedikit mengusir rasa penasaran ibu, silakan baca tulisn Cak Nun yang berjudul 'Cinta Segitiga', yang bersama ini kami kirimkan langsung ke email ibu, bila ada.
terima kasih atas perhatiannya.
Redaksi

CN - kalau shalawat itu cari muka kepada Nabi Muhammad, ya jangan mau. Tak usah shalawat. Kalau berdoa tak perlu dimulai dengan "Allohumma sholli 'ala Muhammad..". Monggo saja, Nabi Muhammad tidak ngersulo dan Tuhan tidak patheken. Langsung saja kepada Allah, ndak usah pakai kolusi lewat Nabi Muhammad segala. Tapi kalau nanti disuruh balik oleh Allah jangan marah. Karena Allah sendiri yang mempelopori shalawat kepada Nabi, dan kalau manusia bershalawat sekali kepada Nabi, Allah membalas kepada pelakunya 1000 kali. Jadi itu bukan inisiatif Nabi Muhammad, juga bukan ide beliau. Nabi Muhammad tidak merasa hebat, maka meskipun beliau sangat dekat dengan Allah, nomer satu dicintai Allah, tetapi beliau tetap orang yang paling rajin beribadah kepada Allah - pokoknya mirip-,mirip Saudari Gundah-lah -- tidak seperti saya yang malas beribadah.

Orang bershalawat karena shalawat bermakna menghadirkan Nabi Muhammad dalam jiwa dan kehidupannya, dan Allah menjamin barang siapa bersama Muhammad maka ia bebas dari adzabNya. Itu semua logika cinta. Saudari Gundah tak usah pakai cinta-cinta segala, rasional saja sebagai orang modern. Jauhkan diri dari Muhammad dan songsonglah adzab Allah. Atau Saudari Gundah mau berdiskusi sama Tuhan untuk merundingkan aturan Cinta Segi Tiga itu? Bagus. Monggo. Silahkan. Tuhan alamatNya jelas, dan tidak mungkin menolak undangan Saudara Gundah, karena Allah mustahil menolak hamba yang memerlukanNya. Apalagi Saudari Gundah toh sudah terbiasa baca karya Allah di Al-Quran dengan lancar, bahasa Arabnya fasih, hapal ayat-ayat yang menyangkut Muhammad dan sangat mengerti maknanya serta mengusai ratusan wacana tafsirnya.